Kemitraan pentol tanpa royalty fee berarti mitra tidak membayar potongan omzet bulanan kepada pemilik brand. Bagi pemula, model ini bisa membantu arus kas lebih mudah dibaca karena pendapatan outlet tidak otomatis terpotong biaya royalti rutin.
Namun, tanpa royalty bukan berarti usaha pasti untung. Calon mitra tetap perlu mengecek fasilitas paket, biaya restock bahan baku, dukungan training, izin lokasi, dan kemampuan menjalankan outlet setiap hari.

Bedanya Royalty Fee dan Beli Putus
Dalam bisnis franchise atau kemitraan, ada beberapa model biaya:
| Model | Penjelasan |
|---|---|
| Royalty bulanan | Mitra membayar persentase omzet atau nominal tertentu secara rutin |
| Franchise fee | Biaya lisensi awal untuk memakai merek dan sistem |
| Beli putus | Mitra membeli paket awal, lalu mengelola outlet tanpa potongan royalti bulanan |
Model beli putus lebih mudah dipahami pemula karena biaya awal terlihat di depan. Setelah outlet berjalan, fokus utama adalah menjaga stok, rasa, pelayanan, dan promosi lokal.
Hal yang Tetap Harus Dicek
Sebelum memilih kemitraan tanpa royalty, cek beberapa hal ini:
- Apa saja isi paket yang diterima?
- Apakah bahan baku mudah dipesan ulang?
- Apakah ada panduan penyajian dan training?
- Apakah brand punya materi promosi yang siap dipakai?
- Apakah ada kontak support jika outlet menghadapi kendala?
Jangan hanya melihat harga paket. Bandingkan juga kesiapan sistem karena pemula biasanya membutuhkan panduan, bukan sekadar perlengkapan.
Dampaknya ke Perhitungan BEP
Tanpa potongan royalty bulanan, simulasi BEP lebih sederhana. Tetapi biaya seperti sewa lokasi, gaji operator, gas, kemasan, dan bahan baku tetap harus dihitung. Karena itu, calon mitra sebaiknya membaca proyeksi dengan asumsi konservatif.
Untuk membaca angkanya, lanjutkan ke simulasi balik modal kemitraan D’Pentol Kriwil dan cara menghitung HPP pentol. Jika ingin melihat pilihan paket beli putus, buka paket kemitraan D’Pentol Kriwil.